try mister

December 26, 2006

Masih inget kan “icon iklan minuman berenergi yang mengambil setting lokasi di Bali. Pengalaman ekspedisi di TN AP ini bener-bener mengingatkan pada iklan tersebut. Betapa tidak, karena di tim ini ada orang bali sebagai salah satu tim yang bertugas sebagai pengamat karst dan bentukan karst. Selam perjalanan, dia sering sekali mengenalkan kebiasaan orang bali terutama dalam melayani para turis dimana kemampuan bahasa inggris yang minim dan apa adanya, yang penting pede katanya . seperti kata “try mister …”untuk mengajak bule agar mau mencoba sebuah produk, ada lagi yang lebih unik, untuk mengajak turis masuk ke dalam toko, mereka menggunakan bahasa sapaan ” mister/madame, looking-looking at my shop …”
made, itulah slah satu tim yang tergabung dalam ekspedisi TN-AP ini. Orang ini syarat dengan pengalaman lapangan sehingga cukup tangguh dengan segala macam kondisi alam dan tim. Tetapi, ada yang sangat lucu dan menarik. ketika harus menjelajah dengan kapal , kebetulan waktu itu laut sudah surut sehingga harus berjalan agak jauh ke tengah laut, (masih dangkal seh) tapi karang lautnya,,,, wow tajam-tajam banget tuh.

Karena cukup dangkal, kapal itu sedikit kandas sehingga perlu didorong ke tengah agar bisa melaju. Dan ini menjadi awal kejadian ini. setelah kapal berhasil di dorong dan melaju di air, akhirnya satu-persatu naek ke kapal, tapi si made ini buat heboh. dikira temen-temen dia lagi bersenang-senang eh ternyata kakinya kram jadi ga bisa di gerakin, wah kacau juga kan, padahal dia jago banget renang sednag yang lain enggak pandai renang akhirnya kata-kata.. “try mister ” berganti menjadi “…help mister…….” kira-kira cocok buat iklan apaan ya ?

Ekspedisi Taman Nasional Alas Purwo

Ekspedisi 11-16 Desember 2006 (…1)

Sore itu, hari minggu tim ekspedisi mulai bergerak dari Yogyakarta ke Banyuwangi. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan karena perjalanannya minimal 14 jam dari Yogya. Walau begitu toh akhirnya sampai juga di Banyuwangi walo pegal dan lelah menggelayuti . Taman Nasional Alas Purwo merupakan salah satu taman nasional yang dikelola oleh Departemen Kehutanan RI.

Ada apa di Taman Nasional Alas Purwo (TN-AP)
Sebagai taman nasional berarti kondisi alaminya masih dijaga keasliannya (flora dan faunanya). Keberadaan satwa di dalamnya dapat hidup secara bebas karena mereka hidup dihabitat aslinya. satwa apa saja yang ditemui? ada bantengm rusa, merak, lutung, babi rusa, monyet, rangkong, kalong, kelelawar, dan masih banyak deh, so kegiatan ini antara lain ya untuk mengetahui keberadaan kondisi alami hutan , jenis-jenis vegetasi yang hidup secara alami disana, hewan-hewan yang ditemui didaerah itu dan juga beberapa bentukan goa di perbukitan karst. Maklum saja mayoritas TN AP adalah bentukan karst sehingga banyak sekali dijumpai goa-goa. Hampir semua goa yang ditemui sudah mempunyai nama dan berpenghuni. Tidak sedikit orang (penghuni ) hanya bermalam di goa-goa tersebut untuk menyepi. Kebayang deh betapa sepinya kondisi di hutan yang alami tersebut dari deru dan bisingnya kendaraan, paling-paling hanya suara binatang malam yang berkeliaran. Dari cerita sejarah, Alas purwo merupakan salah satu tempat berlindungnya beberapa orang yang lari dari kerajaan Majapahit, sehingga disana juga ditemui Pura luhur Girisaloka, Makam Mbah dowo (manusia dengan panjang 4meteran) yang konon (berdasarkan cerita masyarakat setempat) masih ada manusia dengan tinggi tersebut karena pernah ditemui jejak kaki manusia yang cukup besar dan masyarakat yang diajak barter.

Sekarang ini TNAP telah menjadi tempat lelono (orang menyepi) , wisata dan penelitian Disana terdapat tempat pengembang biakan penyu (Tukik), pengamatan satwa (sadengan), plengkung (selancar), dan masih banyak lagi. Ekspedisi dimulai dari Pancur, terus naik menuju Goa Istana. berhenti sebentar untuk pengamatan vegetasi dan pengukuran yang lain, begitulah aktivitas dari hari ke hari selam ekspedisi singkat ini.

Kapas di tangan, genggam ato tiup

December 5, 2006

Hari kemaren, ada seoarang temen bercerita tentang dirinya, tentang hubungan pribadinya dengan “idolanya”. hihihi.. menarik neh :) . Kata demi kata mengalir dengan mudah untuk terangkai dalam kalimat, dan tak terasa hampir satu jam lebih dia bercerita. Sebenarnya tidak ada yang spesial banget dengan ceritanya itu, cuma mau didengerin aja ceritanya itu. Tapi ada hal bagus untuk ditindak lanjuti dari ceritanya itu, bahwa sesuatu yang ada dalam genggaman itu hanya ada dua pilihan, yaitu di genggam dengan erat (jika layak) atau tiuplah dengan kerasnya agar jauh dan menjauh. Kalo memang harus pergi ya pergi saja, jangan berprinsip pergilah engkau tapi jangan jauh-jauh :p. Tak perlu sungkan atau ragu, jika memang sudah membuat keputusan maka keputusan itu adalah tanggungjawab yang harus di lakukan dengan konsisten dan di-istiqomah-i. temen lama ku bilang, mengambil keputusan layaknya menaruh kapas dalam tangan, jika memang dia akan pergi maka biarkan dia pergi tertiup angin atau kita sebagai anginnya :) . Betul kan mas, jeng :)