Pekalongan dan Batik
October 6, 2006Pekalongan, begitu menyebutnya maka bayangan orangpun akan tertuju ke batik. Ya demikianlah image orang dan masyarakat terhadap Kota Pekalongan. Dua kata yang tidak dapat dipisahkan dan melekat dengan eratnya. Batik menjadi icon tersendiri bagi Kota Pekalongan. Kota yang tidak dapat dibilang kecil dan terletak di wilayah pantai utara jawa (PANTURA) salah satu rute terpadat di Jawa.
Sebagai daerah penghasil batik, sebenarnya Pekalongan juga dikenal dengan lingkungannya yang agamis, banyak santri, dan terdapat pondok pesantren. Anda dapat menemukan kampung Arab di kota ini. Mayoritas memang penduduknya adalah suku jawa, tapi masyarakat pendatangpun telah berbaur menjadi warga peklaongan asli. Ada kampong arab, juga warga thionghoa. Banyak deh pokoknya.
Kembali ke batik neh
Sejak Pasar tanah abang di Jakarta kebakaran, pengusaha batik yang tadinya menjual barang produksinya ke Jakarta kemudian mengalihkan penjualannya dengan membuka pasar grosir sendiri. Berawal dari pasar grosir setono yang didirikan kurang lebih 10 tahun yang lalu, sekarang ini telah banyak pasar-pasar sejenis. Dan ramai pengunjung.
Ditinjau dari keberadaannya, industri tentu saja tidak terlepas dari segala konsekuensi logis yang mengiringinya. Disana ada pengusaha, mata pencharian, penghasilan, dan pencemaran. Pencemaran ini yang menjadi kendala tersendiri bagi masayarakat lokal dan pemerintah daerah. Betapa tidak, disatu sisi dengan adanya pengusaha batik maka tercipta lapangan usaha baru sehingga meningkatkan penghasilan penduduk sekitarnya. Akan tetapi, di satu sisi yang lain industri menghasilkan limbah dan kenyataannya mereka (pengusaha) membuang limbah ke wilayah sekitar masyarakat.
masyarakat mau protes ?
bagaimana mau protes kalo dalam wilayah satu desa/rw/rt semua mempunyai profesi yang sama, dan mempunyai kebiasaan yang sama, sama-sama membuang sampah ke lingkungan sekitar. kondisi lain yang sama adalah masyarakat sekitar benar-benar tergantung pada pengusaha tersebut sehingga mereka merasa tidak dirugikan olehnya.
terus …?
Solusinya ya campur tangan pemerintah dan aparat terkait untuk mau dan harus mau membina mereka agar para pengusaha mau duduk bersama dan mencari solusi yang tepat. Salah satu nya adaah dengan membangun IPAL bersama. Pengelolaan dilakukan oleh pemerintah dan dilakukan iuran yang dibebankankepada pengusaha.
